Tips Berbisnis Pengolahan Buah Salak

Peluang bisnis buah salak sangat prospektif untuk dikembangkan, karena sampai saat ini permintaan masyarakat akan buah salak tetap tinggi. Gizi yang terkandung dalam buahnya pun cukup banyak, di antaranyanya karbohidrat. Selain itu salak memiliki keuntungan lain karena salak tidak hanya dapat dijual langsung dalam bentuk buah, tapi salak dapat diolah menjadi produk makanan yang beraneka ragam, seperti asinan, manisan, keripik, dodol, dan pengalengan buah dalam sirup. Pengolahan salak dalam bentuk produk makanan ini dilakukan untuk mencegah pembusukan pada persediaan salak yang banyak yang belum terjual dan dapat menarik konsumen yang tidak menyukai salak dalam bentuk buah. Selain itu, perkembangan agribisnis pengolahan salak merupakan salah satu pilihan untuk membantu kalangan petani di tanah air guna memperbaiki nasib meningkatkan kesejahteraan mereka. Sebab, hanya dengan mengembangkan industri pengolahan hasil pertanian itulah akan terjadi proses nilai tambah terhadap berbagai komoditi pertanian yang pada gilirannya akan mampu memperbaiki nasib dan kesejahteraan petani. Dalam pemasarannya pun cukup mudah dan menguntungkan karena banyak inovasi dalam pengolahan buah salak dan mudah dalam pengolahannya. Pengolahan buah salak dapat dijadikan sebagai oleh-oleh khas suatu kota maupun dijual di supermarket. Pemanenan salak yang dapat dilakukan sepanjang tahun atau dengan kata lain tidak mengenal musim dapat memberikan kemudahan dalam mendapatkan bahan baku untuk mengolahnya menjadi produk makanan. Pengolahan hasil pertanian seperti pengolahan buah salak ini juga sangat menjanjikan pada saat harga produk pertanian menurun.

Dalam bisnis pengolahan buah salak pun banyak kendala yang harus dihadapi, seperti kurangnya sumber daya salak untuk diolah menjadi produk makanan. Salah satu penyebab kurangnya sumber daya salak adalah hama dan penyakit yang ada pada tanaman salak. Hama dan penyakit yang ada pada tanaman salak dapat mempengaruhi kuantitas hasil panen dan mempengaruhi kuantitas hasil produk pengolahan buah salak. Dalam hal ini kita perlu mengetahui cara untuk menanggulangi kendala ini, yaitu kita dapat menanam tanaman salak sendiri untuk sumber daya yang akan diolah menjadi produk dan apabila tanaman yang kita tanam terserang hama dan penyakit kita dapat mengendalikannya. Secara umum usaha mengendalikan hama dan penyakit pada tanaman salak dapat dilakukan secara kultur teknis, mekanis, dan kimia. Secara kultur teknis misalnya dengan memperbaiki pertumbuhan tanaman, memberikan pupuk yang tepat, membersihkan kebun, dan membuang sarang-sarang hama. Secara mekanis misalnya dengan mencari hama penyebab kerusakan dan kemudian mematikannya atau dengan memotong bagian tanaman yang sakit kemudian di bakar. Cara pengendalian terakhir adalah dengan menggunakan bahan kimia (pestisida). Penggunaan bahan kimia dianjurkan apabila kedua cara pengendalian diatas tidak berhasil. Namun dalam melakukan pengendalian cara ketiga ini perlu diperhitungkan cara melakukannya dan bagian tanaman yang akan diberikan, hal ini sehubungan dengan bahaya residu bahan kimia pada tanaman salak yang akan dipanen

Posted in Tips berbisnis | Tagged | Leave a comment

Cara Ternak Lele Kolam Terpal

Tips Ternak Lele Kolam Terpal | usahaternak ternak pintar
Kolam terpal, salah satu bentuk inovasi beternak lele
Umumnya para peternak ikan lele menggunakan kolam lele konvensional, yaitu dengan kolam semen atau kolam tanah. Namun kedua jenis kolam lele tersebut cukup rawan beresiko dan kurang fleksibel. Dengan pengadaan kolam terpal lele, berbagai Jenis Ikan Lele  akan semakin mudah diternak dan dikembangbiakkan. Selain itu penggunaan kolam terpal sangat tepat untuk tempat dengan lahan yang sempit, tanah berpasir, dan cuaca tidak teratur.  
 
Beberapa keuntungan penggunaan kolam terpal untuk ternak lele antara lain:
- Praktis dan mudah dibuat
- Biaya lebih murah
- Dapat menghindari pencemaran oleh tanah
- Lebih tahan pada faktor alam
- Fleksibel dan mudah dibersihkan
- Lebih mudah mengontrol terhadap suhu, kualitas, dan kuantitas air
 
 
 
Dalam cara pembuatan kolam terpal lele ada beberapa hal standar yang harus di perhatikan, antara lain jumlah populasi ikan lele dan luas kolam terpal. Standar yang tepat untuk 100 ekor lele ukuran sedang, luas ukuran kolam terpal yang dibutuhkan adalah (Panjang 2m x Lebar 1m x Tinggi 0,6m). Jika untuk ukuran bibitan yang dimasukkan bisa juga menggunakan aturan 200 ekor lele per meter persegi (m2). Jika anda ingin mengembangkan lele di kolam terpal dalam jumlah lebih banyak tinggal dikalikan saja dengan lebar tersebut. Sehingga dalam pembibitan lele kolam terpal yang perlu di perhatikan adalah panjang dan lebar kolam terpal.
Hal yang juga perlu diperhatikan adalah sebelum menebar bibit ke dalam kolam sebaiknya kolam terpal ternak bibit lele di isi dengan air yang sudah kaya alga/plankton (biasanya berwarna hijau) sebagai sumber makanan utama bibit ikan lele. Agar lebih cepat berkembang sebaiknya bibit ikan lele juga diberi Pelet Khusus Ikan Lele sebanyak 2 kali sehari.
Pergantian air kolam terpal budidaya lele juga diperlukan, meskipun lele termasuk jenis ikan yang tahan pada berbagai kondisi dan jenis air, tetapi dengan kondisi air yang tidak di ganti dalam jangka waktu lama akan membuat kualitas air menjadi buruk dan bau yang tidak sedap. Pergantian air sebaiknya dilakukan dengan mengganti sekitar 10-30% air setiap seminggu sekali atau 2 minggu sekali sehingga kualitas air dan kesehatan bibit ikan lele budidaya semakin terjaga. Hingga usia lele mencapai 1 bulan, maka seleksi dan pemisahan ikan lele berdasar kualitas dan ukuran sudah harus dilakukan. Hal ini dilakukan agar pertumbuhan lele sama rata baik dari segi ukuran dan kualitas ikan lele. Jika anda masih kurang jelas mengenai bagaimana seharusnya memulai bisnis budidaya ikan lele bisa membaca artikel lengkap kami tentang Panduan Budidaya Lele Bagi Pemula  sehingga anda tidak perlu bingung dari mana harusnya membangun bisnis ternak lele.
Posted in Tips berbisnis | Tagged | Leave a comment